Menyusui Lancar, ASI Tokcer

Jakarta, Menyusui adalah kegiatan yang sangat alamiah ketika seorang wanita baru melahirkan. Namun tidak semua wanita dapat menyusui anaknya dengan lancar, bahkan ada yang tidak bisa menyusui karena payudaranya tidak berfungsi dengan benar.

Menjelang kehamilan, tubuh Anda secara alami akan mempersiapkan diri untuk menyusui. Anda pun tidak perlu repot-repot memberi perawatan ekstra.

Namun jika kulit Anda tergolong sensitif atau puting Anda tidak bisa keluar dan tersembunyi dalam payudara, Anda pun mau tak mau harus melakukan sesuatu agar si calon bayi tidak kesulitan meminum ASI dari payudara Anda.

Seperti dikutip dari eHow, Kamis (30/7/2009), ini dia tips yang bisa dilakukan sebelum bayi Anda lahir dan Anda pun dapat menyusui dengan lancar.

1. Beri pijatan lembut dan beberapa tetes kolustrum pada bagian puting setiap harinya. Mulailah beberapa minggu sebelum Anda melahirkan.

2. Berikan krim lanolin pada daerah di sekitar puting, lakukan beberapa kali setiap harinya untuk menenangkan daerah payudara yang terasa sakit dan melembutkan kulit setelah mulai menyusui.

3. Usahakan agar penutup bra yang Anda gunakan khusus menyusui (nursing bra) tetap terbuka agar payudara Anda mendapat udara dan oksigen yang cukup.

4. Jika Anda mempunyai masalah dengan puting yang masuk ke dalam payudara atau puting Anda tidak keluar menjelang melahirkan, konsultasikanlah dengan ahli laktasi.

5. Ikuti grup-grup menyusui menjelang kehamilan Anda untuk mendapatkan informasi lebih banyak tentang masa-masa menyusui atau pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan sebelum melahirkan.

6. Dapatkan buku yang bagus tentang menyusui dan bacalah menjelang kelahiran sehingga Anda akan mendapatkan informasi yang dibutuhkan ketika anak Anda lahir.

Selamat Mencoba.


Sumber: Menyusui Lancar, ASI Tokcer

Menyusui Tak Bikin Payudara Kendur

Payudara hanya berubah karena dua faktor utama, Usia, dan karena kehamilan. Jadi, kalau tidak mau kendur, ya jangan jadi tua, dan jangan pernah punya anak. Ternyata, satu lagi penyebab hasil penelitian, kebiasaan merokok! :D



Jakarta, Memberikan ASI secara eksklusif kepada bayi tercinta masih menjadi tantangan besar. Beberapa ibu merasa takut jika menyusui akan membuat payudaranya tidak kencang, padahal payudara tidak akan menjadi kendur atau turun karena menyusui.

Masih banyak perempuan moderen yang tidak memberikan ASI eksklusif kepada bayinya karena takut bentuk payudara tidak bagus lagi. Padahal manfaat dari ASI bagi bayi sangat banyak, salah satunya dapat memberikan kekebalan tubuh dan zat antibodi lainnya yang tidak terdapat dalam susu formula.

"Mitos yang mengatakan kalau menyusui bikin payudara turun itu tidak benar. Yang benar payudara akan berubah sesuai dengan waktunya dan menyusui tidak memberikan pengaruh apapun," ujar Selvie Amalia, divisi komunikasi dari Asosiasi Ibu menyusui Indonesia (AIMI) dalam acara jumpa pers Indonesia Maternity & Baby Expo di Hote Twin Plaza, Jakarta, Selasa, (17/11/2009).

Sebuah penelitian juga menunjukkan bahwa menyusui tidak menyebabkan payudara menjadi kendur atau turun. Ahli bedah plastik dari University of Kentucky di AS, Dr Brian Rinker dan rekannya melakukan penelitian pada pasien di HealthCare Cosmetic Surgery Associates, Inggris. Hasil penelitian ini menunjukkan menyusui tidak mempengaruhi bentuk dari payudara.

"Hasil ini didasarkan atas tidak adanya perbedaan derajat breast ptosis (istilah medis untuk menentukan payudara kendur atau tidak) pada perempuan yang menyusui dan tidak," ujar Rinker, seperti dikutip dariScienceDaily.

Peneliti justru melihat hal yang bisa membuat payudara menjadi kendur adalah jika perempuan tersebut merokok. Karena rokok bisa memecah protein elastin di kulit yang berfungsi memberikan elastisitas dan menyokong payudara.

Diperkirakan hanya 1 dari 1.000 perempuan saja yang tidak bisa menyusui, itupun dikarenakan perempuan tersebut tidak memiliki kelenjar air susu sehingga ASI tidak bisa diproduksi. Sedangkan jika memiliki kelenjar tersebut, secara otomatis pasti memiliki ASI dan tinggal bagaimana manajemen laktasi dari ibu menyusui itu sendiri.

Hal yang paling mempengaruhi berhasil atau tidaknya seorang ibu menyusui bayinya adalah bagaimana persiapan sebelum dan saat menyusuinya. Termasuk psikologis dari ibu itu sendiri dan dukungan dari orang-orang disekitarnya seperti suami, orangtua maupun tetangganya. Serta komitmen awal ibu sejak hamil bahwa dirinya ingin memberikan ASI eksklusif pada bayinya.

Selain itu Selvie menambahkan bahwa saat bayi baru lahir saluran pencernaannya masih seperti saringan. Jadi lebih bagus jika diisi oleh ASI yang mengandung kolostrum sehingga saluran pencernaannya menjadi bagus dan bukan diisi oleh zat lain yang belum tentu steril.

Jadi, jangan takut untuk memberikan ASI eksklusif pada bayi. Karena sudah terbukti menyusui tidak akan merusak atau membuat kendur payudara perempuan.

Ayo, Jangan Lupa Imunisasi!

Kompas menurunkan berita ini sebagai headline, artinya kasus ini tidak main-main. Kita tahu potensi bahayanya kalau sampai anak tidak diimunisasi. 4 dari 5 imunisasi dasar, vaksinnya adalah buatan dalam negeri, Bio Farma, seharusnya harganya tidak mahal lagi. Peran posyandu lagi-lagi mendapat sorotan, karena menjadi ujung tombak pelaksanaan imunisasi di lapangan. Tapi, mana penghargaan pemerintah terhadap kegiatan posyandu? Tanda jasa belaka?

Program revitalisasi posyandu sudah berkali-kali diluncurkan, tapi tetap saja nggak 'vital-vital' itu posyandu. Kenapa kok bisa begitu?

===================

Penyakit Campak Mengancam
Senin, 7 September 2009 | 05:03 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com-Dibandingkan dengan 10 tahun lalu, cakupan beberapa imunisasi rutin yang wajib diberikan sesuai program pemerintah cenderung menurun. Hal ini mengakibatkan sejumlah penyakit infeksi pada bayi, seperti campak, belum teratasi dan masih mengancam bayi yang tidak diimunisasi.

Sejumlah daerah belum optimal melakukan imunisasi, dengan cakupan kurang dari 90 persen pada tahun 2008. Untuk imunisasi campak di Papua, misalnya, baru tercakup 60,7 persen, Sulawesi Barat 77,6 persen, dan Nusa Tenggara Timur 74,2 persen. Campak merupakan penyakit yang ditandai oleh demam tinggi dan adanya bintik-bintik merah. Penyakit ini di dunia membunuh satu dari 1.000 kasus infeksi.

Tidak tercapainya target imunisasi hingga mencakup semua bayi, di beberapa daerah, antara lain disebabkan pemahaman masyarakat yang masih terbatas bahkan keliru terhadap imunisasi, terutama di perkotaan. Adapun di pedesaan karena minimnya infrastruktur dan rendahnya cara hidup sehat.

”Keberhasilan program imunisasi sangat tergantung dari kesiapan petugas kesehatan, tingkat kesadaran masyarakat, dan alat untuk menjamin efektivitas vaksin,” kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Aditama, Sabtu (5/9) di Jakarta.

Lima imunisasi wajib

Upaya imunisasi di Indonesia telah dilakukan sejak tahun 1970-an pada bayi dan anak. Sesuai program imunisasi pemerintah, ada lima jenis imunisasi yang wajib diberikan kepada bayi usia 0-11 bulan, yaitu polio, BCG, hepatitis B, DPT, dan campak.

Adapun imunisasi yang dianjurkan adalah MMR, Hib, tifoid, hepatitis A, varisela, PPV, dan pneumokokus (IPD).

Beberapa manfaat imunisasi yang wajib diberikan itu antara lain vaksin hepatitis B mencegah infeksi hepatitis B, vaksin BCG untuk menghindari tuberkulosis berat, vaksin DPT untuk mencegah difteri, batuk rejan (pertusis) dan tetanus. Adapun vaksin polio untuk menghindari penyakit polio.

Namun, cakupan imunisasi yang wajib diberikan itu menurun beberapa tahun terakhir dibandingkan dengan 10 tahun lalu. Sebagai contoh, cakupan imunisasi DPT tahun 1997 secara nasional mencapai 100 persen atau lebih, sedangkan tahun 2008 cakupannya turun menjadi 91,6 persen. Dengan sasaran imunisasi pada bayi sekitar 5 juta anak, ini berarti ada sekitar 420.000 bayi tidak mendapat vaksin DPT.

Kondisi ini menyebabkan sejumlah penyakit infeksi pada anak balita belum bisa diatasi hingga tak ada lagi kasus. Sebagai contoh, angka kasus campak tahun 2007 berjumlah 18.488 orang. Polio muncul tahun 2005 setelah tidak ditemukan sejak tahun 1995 meski berhasil dieliminasi setelah imunisasi nasional.

Mencegah infeksi

Imunisasi merupakan hal mendasar untuk diberikan kepada setiap anak. ”Masa depan bangsa ditentukan anak saat ini. Karena itu, salah satu sasaran Millennium Development Goals 2015 adalah menurunkan angka kematian bayi dan anak balita, membasmi berbagai penyakit infeksi,” kata Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Bagriul Hegar.

Sejauh ini, kematian anak di bawah usia satu tahun di Indonesia sangat tinggi. Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia, angka kematian bayi tahun 2007 adalah 34 per 1.000 kelahiran hidup. ”Angka kematian bayi di Indonesia tertinggi di antara negara ASEAN,” ujar Sri Rezeki S Hadinegoro, Ketua Satuan Tugas Imunisasi IDAI.

Sekitar 75 persen dari kematian bayi di bawah umur 1 tahun karena infeksi saluran napas akut (ISPA), komplikasi perinatal (bayi umur 0-28 hari), dan diare. Karena itu, upaya mengatasi ketiga penyebab utama kesakitan dan kematian itu harus diutamakan. Banyak penyakit terkait ISPA bisa dicegah dengan imunisasi, antara lain campak, pertusis, Hib, dan pneumokokus.

Imunisasi juga mencegah penyakit di masa depan. Sebagai contoh, hepatitis B pada bayi bisa mencegah kanker hati pada usia produktif. Karena 90 persen bayi yang dilahirkan ibu dengan infeksi hepatitis B akan terinfeksi virus itu, 95 persen di antaranya berkembang menjadi kronik dan kanker hati.

”Pemberian vaksin dapat melindungi anak dari serangan berbagai penyakit infeksi yang bisa menyebabkan kematian dan kecacatan. Imunisasi merangsang sistem imunologi tubuh untuk membentuk antibodi spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit,” kata Sri Rezeki.

Keuntungan vaksin dapat dirasakan secara individu, sosial, dan menunjang sistem kesehatan nasional. Jika seorang anak telah mendapat vaksinasi, 80-95 persen akan terhindar dari penyakit itu. Hal ini memutus rantai penularan penyakit dari anak ke anak lain atau orang dewasa yang hidup bersama, menurunkan biaya pengobatan dan perawatan di rumah sakit, mencegah kematian dan kecacatan seumur hidup.

Terus dilakukan

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengatakan, pemerintah terus melakukan kegiatan vaksinasi. ”Itu terus berlanjut di seluruh Indonesia,” katanya.

Mengenai adanya kelompok dalam masyarakat yang menolak imunisasi, Menkes menyatakan, penolakan memang pernah terjadi, tetapi sekarang ini sudah jauh berkurang. ”Saya lakukan pendekatan kepada mereka selama dua tahun,” kata Menkes.

Menkes menyatakan, empat vaksin wajib seperti polio, DPT, campak, dan BCG adalah produksi dalam negeri. Karena itu, saat melakukan pendekatan kepada kelompok-kelompok yang menolak vaksin tersebut, ia menjelaskan bahwa keempat vaksin diproduksi oleh Bio Farma. Bio Farma sudah mengekspor vaksin produksinya dan sudah menguasai 35 persen pasar dunia.

Tjandra Yoga menyatakan, cakupan imunisasi tidak menurun, tetapi berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada hepatitis B, penurunan cakupan imunisasi tahun 2007 terjadi karena perubahan kebijakan, yaitu menggabungkan DPT dan hepatitis B apabila bayi sudah berusia di atas tujuh hari.

Keberhasilan imunisasi rutin bergantung pada petugas kesehatan, kesadaran masyarakat, dan alat penyimpan vaksin. Sejak desentralisasi sektor kesehatan, dana operasional imunisasi dilimpahkan ke daerah, pemerintah pusat bertanggung jawab atas pengadaan dan distribusi logistik vaksin ke semua provinsi.

Dalam menjalankan program imunisasi rutin, kendala yang dihadapi adalah banyak posyandu yang tidak aktif lagi di banyak daerah. Karena itu, revitalisasi posyandu mulai dilakukan agar bayi terpantau kesehatannya dan mendapat imunisasi lengkap. (EVY/LOK)

Tolak Pengesahan RUU Kesehatan

Dari kompas, nemu artikel ini. Agak terlambat sih kayaknya...

Sejumlah Elemen Tolak Pengesahan RUU Kesehatan | Kamis, 20 Agustus 2009 | 21:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com- Rencana yang akan mengesahkan Rancangan Undang-Undang Kesehatan bulan ini sepertinya akan tertunda. Klausul yang menyatakan tenaga kesehatan dapat memberikan susu formula bayi untuk memenuhi kebutuhan bayi rupanya menjadi perdebatan.

Klausul yang terdapat dalam pasal 88 dan 89 itu menimbulkan reaksi. Pencantuman kata susu formula dianggap tidak tepat dan justru membuat masyarakat salah pengertian. Oleh karena itu, Gabungan Lembaga dan Masyarakat Peduli ASI menolak dengan tegas RUU tersebut.

"Tidak usah disebutkan bagaimana cara memperbaiki gizi baik. Yaitu dengan makanan seimbang, bukan 4 sehat 5 sempurna. Pasal (itu) buat salah kaprah," ujar DR. dr. Sri Durdjati Boedihardjo, SPGK, PhD, IBCL, dari Perhimpunan Perinatologi Indonesia, dalam konfrensi pers penolakan RUU Kesehatan, di Hotel Millenium, Jakarta, Kamis (20/8).

Ia menuturkan, penyebutan susu formula dalam suatu Undang-undang sama saja dengan penyebutan suatu jenis obat, dan hal tersebut tidak dibenarkan. Klausul tersebut juga akan menimbulkan kerancuan, masyarakat akan mengidolakan susu formula.

"Padahal pemberian susu formula bukan hal yang tepat untuk menyembuhkan mal nutrisi. Donasi dari ibu akan jauh lebih baik," kata dia.

Dokter Utami Rusli, SpA, MBA, IBCLC dari sentra laktasi menambahkan, justru susu formula yang menjadi penyebab gizi buruk pada anak. Pemakaian susu formula bagi anak tidak tepat. Susu formula hanya cocok bagi anak sapi," katanya,

Selain mempermasalahkan klausul penggunaan susu formula untuk memenuhi kebutuhan bayi, Gabungan Lembaga dan Masyarakat Peduli ASI juga meminta DPR mencabut penjelasan pasal 88 ayat (2) yang berbunyi Pemberian air susu ibu dapat berupa pemberian ASI ekslusif dan non eksklusif.

Pasalnya penjelasan tersebut bertentangan dengan SK Menteri Kesehatan No: 450 /MENKES/SK/IV/2004 yang menetapkan pemberian ASI secara ekslusif sejak lahir sampai dengan berumur enam bulan.

Mia Susanto, Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia mengatakan, terdapat kejanggalan pada klausul tersebut. Pasalnya pada draft awal RUU kesehatan, tidak dicabtumkan mengenai penggunaan susu formula untuk memenuhi kebutuhan gizi. Draft tesebut baru muncul pada bulan Juni.

Pekan depan Gabungan Lembaga dan Masyarakat Peduli ASI, rencananya akan bertemu dengan Komisi IX DPR RI untuk menyampaikan keberatan mereka. "Diharapkan usulan kita akan lolos, atau paling tidak pengesahan RUU tersebut akan dipending sampai DPR periode selanjutnya," harap Mia.

Lihat juga:

World Breastfeeding Week around the World

WBW Theme for 2009

Breastfeeding: A Vital Emergency Response. Are you ready?

OBJECTIVES OF WORLD BREASTFEEDING WEEK 2009

  • To draw attention to the vital role that breastfeeding plays in emergencies worldwide.
  • To stress the need for active protection and support of breastfeeding before and during emergencies.
  • To inform mothers, breastfeeding advocates, communities, health professionals, governments, aid agencies, donors, and the media on how they can actively support breastfeeding before and during an emergency.
  • To mobilise action and nurture networking and collaboration between those with breastfeeding skills and those involved in emergency response.

RATIONALE
  • Children are the most vulnerable in emergencies – child mortality can soar from 2 to 70 times higher than average due to diarrhoea, respiratory illness and malnutrition.
  • Breastfeeding is a life saving intervention and protection is greatest for the youngest infants. Even in non-emergency settings, non-breastfed babies under 2 months of age are six times more likely to die. Emergencies can happen anywhere in the world. Emergencies destroy what is ‘normal,’ leaving caregivers struggling to cope and infants vulnerable to disease and death.During emergencies, mothers need active support to continue or re-establish breastfeeding.Emergency preparedness is vital. Supporting breastfeeding in non-emergency settings will strengthen mothers’ capacity to cope in an emergency.
All you have to do is to organise a WBW event and complete the WBW Report Form which is available for download here.

UPDATE:

Seminar ASI bersama Pakar ASI Dunia, dr. Jack Newman, FRCPC

Menyusui Menyelamatkan Jiwa Ibu dan Bayi

Dalam rangka memperingati Pekan ASI Dunia, AIMI akan mengadakan seminar ASI dengan mendatangkan Pakar ASI Dunia, dr. Jack Newman, FRPCP.

HTM untuk seminar

Paket Platinum Rp 450.000/ pax:
- Baris paling depan (tepat di hadapan panggung) dengan seat arrangement round table
- Foto bersama Dr. Jack Newman
- 1 Buku Dr. JackNewman seharga Rp. 91.000 + ttd asli
- Sertifikat
- Goodiebag
- Makan siang

Paket Gold Rp. 350.000/ pax:
- Baris ke-2 depan dengan seat arrangement round table
- 1 Buku Dr. JackNewman seharga Rp. 91.000 + ttd asli
- Sertifikat
- Goodiebag
- Makan siang

Silver Rp 200.000/ pax:
- Tiket seminar
- Sertifikat
- Goodiebag
- Makan siang

Special discount :
- 5% khusus member AIMI Disc
- 5% untuk pembelian 1 table
- discount tsb di atas hanya berlaku salah satu, tidak keduanya

Untuk pendaftaran dan informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi bagian pendaftaran di wbw2009 [at] aimi-asi [dot] org atau telpon sekretariat AIMI 021 - 7279 0165 atau 021 - 7278 7243

Sponsor Utama:
Sorella

Turut Disponsori oleh:
PT Indo Tambangraya Megah, Tbk
BII

Didukung oleh:
Medela
Slim Gourmet
Svarga Pilates
Dharmawangsa Square
the Occassion

Media Partners:
Ayahbunda
Nakita
Trans7
ALiF Magazine

Official Carrier & Fuel:
DIM Car Rental
S.P.A Energy

Sekilas Info tentang dr. Jack Newman, FRPCP

Beliau berasal dari Toronto, Kanada menamatkan kuliah kedokterannya dari University of Toronto pada tahun 1970. Beliau melakukan pelatihan dalam ilmu kesehatan anak-anak di Quebec City dan kemudian di Hospital for Sick Children di Toronto dari 1977-1981 untuk menjadi Fellow of the Royal College of Physicians of Canada pada tahun 1981 juga mendapatkan Board Certified oleh AAP pada tahun 1981.

Dr Newman adalah seorang staf dokter penyakit anak di Hospital for Sick Children dibagian gawat darurat dari 1983 ke 1992, dan, untuk jangka waktu tertentu, beliau menjadi kepala dari gawat darurat. Namun, setelah klinik menyusui mulai berfungsi, waktu beliau banyak dihabiskan untuk membantu ibu dan bayi agar sukses menyusui, yang mana akhirnya beliau kerja secara penuh di klinik tersebut. Ia kini bekerja di Newman Breastfeeding Clinic and Institut’ yang bertempat di The Canadian College of Naturopathic Medicine di Toronto.

Dr Newman telah memiliki beberapa publikasi tentang kegiatan menyusui, dan pada tahun 2000 diterbitkan bersama dengan Teresa Pitman, bantuan panduan untuk para profesional dan pada ibu menyusui, bernama, ‘Dr Jack Newman's Guide to Breastfeeding’, yang dikenal di Kanada (edisi revisi, Januari 2003 dan Januari 2005), dan ‘The Ultimate Breastfeeding Book of Answers’, judul yang dipakai di AS (direvisi edisi November 2006) dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul ‘Segala Yang Anda Perlu Tahu Soal Menyusui’ (ed 2008).

Sumber: Facebook

Branding ASI, Pasti!


Hehehe... bermimpi bisa bikin kampanye kayak gini. Dengan strategi 'branding' ASI, Pasti! untuk mengingatkan khalayak tentang ASI Eksklusif...

Where Women Have No Doctor

Hesperian Foundation telah lama menerbitkan buku ini, yang berjudul "Where Women Have No Doctor". Rasanya buku ini ditujukan untuk ibu-ibu di daerah miskin, atau yang sulit akses kesehatan. Tapi kalau melihat isinya, kayaknya masih cukup relevan buat Anda yang hidup di kota (di Indonesia :D). Jadi, masih cukup relevan rasanya kalau saya pasang link-nya disini. Tetapi karena di website nya tidak memperkenankan link langsung ke setiap file, maka saya persilakan berknjung langsung saja ke website Hesperian Foundation. Selamat mengunduh!

Antibiotik? Siapa Takut?

Dapat kiriman via email, semoga bermanfaat...

Antibiotik? Siapa Takut?
by Dr. Purnamawati SpAK MMPed

Mungkin begitulah kira2 pikiran kebanyakan pasien Indonesia ketika diberi resep oleh dokternya ketika berobat...karena sudah seringnya diberi AB (Anti Biotik), kita langsung aja meminumnya tanpa mempertanyakan dahulu apakah benar kita perlu AB? Lalu kapan sih kita perlu dan kapan tidak? Summary ini membahas dengan singkat apa itu AB dan beberapa topik yang berhubungan...

Apa itu AB?
AB ditemukan oleh Alexander Flemming pada tahun 1929 dan digunakan untuk membunuh bakteri secara langsung atau melemahkan bakteri sehingga kemudian dapat dibunuh dengan sistem kekebalan tubuh kita. AB ada yang merupakan :

  1. produk alami,
  2. semi sintetik, berasal dari alam dibuat dengan beberapa perubahan agar lebih kuat, mengurangi efek samping atau untuk memperluas jenis bakteri yang dapat dibunuh,
  3. full sintetik.

Jenis AB:
  1. Narrow spectrum, berguna untuk membunuh jenis2 bakteri secara spesifik. Mungkin kalau di militer bisa disamakan dengan sniper, menembak 1 target dengan tepat. AB yang tergolong narrow spectrum adalah ampicillin dan amoxycilin (augmentin, surpas, bactrim, septrim).
  2. Broad spectrum, membunuh semua jenis bakteri didalam tubuh, atau bisa disamakan dengan bom nuklir. Dianjurkan untuk menghindari mengkonsumsi AB jenis ini, karena more toxic dan juga membunuh jenis bakteri lainnya yang sangat berguna untuk tubuh kita. AB yang termasuk kategori ini adalah cephalosporin (cefspan, cefat, keflex, velosef, duricef, etc.).

Bakteri
Bakteri berdasarkan sifat fisiknya dapat dibagi menjadi dua, yaitu gram positif (+) dan gram negatif (-). Infeksi dibagian atas difragma (dada) umumnya disebabkan oleh bakteri gram (+) sedangkan infeksi dibagian bawah difragma disebabkan oleh bakteri gram (-). Biasanya, infeksi yang disebabkan oleh gram (+) lebih mudah dilawan. Didalam tubuh kita banyak sekali terdapat bakteri, bahkan salah satu kandungan ASI adalah bakteri. Jadi, sebenarnya, kebanyakan bakteri tidaklah "jahat". Manfaat bakteri diusus kita adalah:
  1. bakteri mengubah apa yang kita makan menjadi nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh.
  2. memproduksi vitamin B & K.
  3. memperbaiki sel dinding usus yang tua dan sudah rusak.
  4. merangsang gerak usus sehingga kita tidak mudah muntah (konstipasi).
  5. menghambat berkembang biaknya bakteri jahat dan secara tidak langsung mencegah tubuh kita agar tidak terinfeksi bakteri jahat.

Sekarang kita tahu manfaatnya, jadi jangan lagi minum AB tanpa alasan yang jelas, karena hal ini akan membunuh bakteri yang baik tersebut.

Virus
Walaupun sesama mikro-organisme, virus ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan dengan bakteri. Mereka berkembang biak dengan mengunakan sel tubuh kita, jadi virus akan mati bila berada diluar tubuh. Catatan penting: virus tidak dapat dibunuh oleh obat dan AB sama sekali tidak bekerja terhadap virus. Virus hanya bisa dibasmi oleh sistem imun atau daya tahan tubuh kita, salah satunya adalah dengan demam. Demam merupakan bagian dari sistem daya tahan tubuh yang bermanfaat untuk membasmi virus, karena virus tidak tahan dengan suhu tubuh yang tinggi. Jadi apabila anak/anda mengalami demam, sebaiknya tidak diobati apabila suhu tubuhnya tidak terlalu tinggi. Untuk petunjuk lebih lanjut, buka e-mail terdahulu yg membahas demam.

When AB doesn't work?
Menurut penelitian, ada 3 kondisi yang umumnya diterapi dengan AB, yaitu (1) Demam, (2) Radang tenggorokan, (3) Diare. Padahal, sebenarnya, penggunaan AB untuk kondisi di atas tidaklah tepat dan tidak berguna. Dibawah ini petunjuk kapan AB tidak bekerja:
  1. Colds & Flu
  2. Batuk atau bronchitis
  3. Radang tenggorokan
  4. Infeksi telinga. Tidak semua infeksi telinga membutuhkan AB.
  5. Sinusitis. Pada umumnya tidak membutuhkan AB.

Penggunaan AB tidak pada tempatnya dan berlebihan tidak akan menguntungkan, bahkan merugikan dan membahayakan.

When do we need AB?
Dibawah merupakan beberapa jenis infeksi bakteri yang umumnya terjadi dan membutuhkan terapi AB:
  1. Infeksi saluran kemih
  2. Sebagian infeksi telinga tengah atau biasa disebut otitis media
  3. Sinusitis yang berat (berlangsung lebih dari minggu, sakit kepala, pembengkakan di daerah wajah)
  4. Radang tenggorokan karena infeksi kuman streptokokus (umumnya menyerang anak berusia 7 tahun atau lebih sedangkan pada anak usia 4 tahun hanya 15% yang mengalami r adang tenggorokan karena kuman ini)

How do I know this is bacterial infection?
Untuk mengetahui apakah ada infeksi bakteri biasanya dengan melakukan kultur yang membutuhkan beberapa hari untuk observasi. Contohnya apabila dicurigai adanya infeksi saluran kemih, lab. mengambil sample urin dan kemudian dikultur, setelah beberapa hari akan ketahuan bila ada infeksi bakteri berikut jenisnya.

Efek Negatif AB
Dibawah adalah efek samping yang dialami pemakai apabila mengkonsumsi AB;
  1. Gangguan saluran cerna (diare, mual, muntah, mulas) merupakan efek samping yang paling sering terjadi.
  2. Reaksi alergi. Mulai dari yang ringan seperti ruam, gatal sampai dengan yang berat seperti pembengkakan bibir/kelopak mata, gangguan nafas, dll.
  3. Demam (drug fever). AB yang dapat menimbulkan demam bactrim, septrim, sefalsporoin & eritromisin.
  4. Gangguan darah. Beberapa AB dapat mengganggu sumsum tulang, salah satunya kloramfenikol.
  5. Kelainan hati. AB yang paling sering menimbulkan efek ini adalah obat TB seperti INH, rifampisin dan PZA (pirazinamid).
  6. Gangguan fungsi ginjal. Golongan AB yang bisa menimbulkan efek ini adalah aminoglycoside (garamycine, gentamycin intravena), Imipenem/Meropenem dan golongan Ciprofloxacin. Bagi penderita penyakit ginjal, harus hati2 mengkonsumsi AB.

Pemakaian AB tidak pada tempatnya dan berlebihan (irrational) juga dapat menimbulkan efek negatif yang lebih luas (long term), yaitu terhadap kita dan lingkungan sekitar, contohnya: Pertama, irrational use ini juga dapat membunuh kuman yang baik dan berguna yang ada didalam tubuh kita. Sehingga tempat yang semula ditempati oleh bakteri baik ini akan diisi oleh bakteri jahat atau oleh jamur. Kondisi ini disebut juga sebagai "superinfection". Kedua, pemberian AB yang berlebihan akan menyebabkan bakteri2 yang tidak terbunuh mengalami mutasi dan menjadi kuman yang resistance terhadap AB, biasa disebut SUPERBUGS. Jadi jenis bakteri yang awalnya dapat diobati dengan mudah dengan AB yang ringan, apabila ABnya digunakan dengan irrational, maka bakteri tersebut mutasi dan menjadi kebal, sehingga memerlukan jenis AB yang lebih kuat.

Bayangkan apabila bakteri ini menyebar ke lingkungan sekitar. Lama kelamaan, apabila pemakaian AB yang irrational ini terus berlanjut, maka suatu saat akan tercipta kondisi dimana tidak ada lagi jenis AB yang dapat membunuh bakteri yang terus menerus bermutasi ini. Hal ini akan membuat kita kembali ke zaman sebelum AB ditemukan, dimana infeksi yang diakibatkan oleh bakteri ini tidak dapat diobati sehingga angka kematian akan drastis melonjak naik.

Note: Semakin sering mengkonsumsi AB, semakin sering kita sakit. The less you consume AB, the less frequent you get sick.

Inappropriate AB Use
Berjuta2 resep ditulis yang mencantumkan AB untuk infeksi virus, padahal kita semua tahu AB tidak berguna untuk memerangi virus. Ada 3 alasan mengapa apparopriate use of AB ini terjadi, yaitu:
  1. Diagnostic uncertainty.
  2. Time pressure.
  3. Patient Demand."People don't want to miss work or they have a sick child who kept the family up all night and they're willing to try anyhing that might work". It's easier for the physician to give AB than to explain why it might be better not to use it.

Benar, seringkali kitapun sebagai pasien juga berperan didalam AB irrational use ini. Sudah terbentuk persepsi didalam pasien Indonesia, dimana kita beranggapan bahwa kalau pulang dari kunjungan dokter itu harus membawa resep. Malah akan aneh kalau kita tidak pulang dengan membawa resep. Hal ini justru mendorong dokter untuk meresepkan AB ketika tidak diperlukan. Sebaiknya sikap ini sedikit demi sedikit kita hilangkan.

How Can We Help?
  1. Rubah sikap kita ketika berkunjung ke dokter dengan menanyakan; Apa penyebab penyakitnya? bukan apa obatnya.
  2. Jangan sedikit2 minta dokter untuk meresepkan AB. Jangan mengkonsumsi AB untuk infeksi virus seperti flu/pilek, batuk atau radang tenggorokan. Kalau merasa tidak nyaman akibat infeksi tsb. tanya dokter bagaimana cara meringankan gejalanya, tetapi tidak dengan AB.
  3. Tidak mempergunakan Desinfektan dirumah, cukup dengan air dan sabun. Hanya diperlukan bila di rumah ada orang sakit dengan daya tahan tubuh rendah (pasca transplantasi, anak penyakit kronis, pemakaian steroid jangka panjang, dll.).

Battle of the Bugs: Fighting AB Resistance
Masalah bakteri yang kebal terhadap AB (AB resistance) ini telah menjadi masalah global dan sudah sejak beberapa dekade terakhir dunia kedokteran mencanangkan perang terhadap AB resistance ini.
Ada petunjuk yang dapat dilakukan untuk perihal pemakaian AB yang
rasional, yaitu:
  1. Kurangi pemakaian AB, jangan menggunakan AB untuk infeksi virus.
  2. Gunakan AB hanya bila benar2 diperlukan dan mulailah dengan AB yang ringan atau narrow spectrum.
  3. Untuk infeksi yang ringan (infeksi saluran nafas, telinga atau sinus) yang memang perlu AB, gunakan AB yang bekerja terhadap bakteri gram (+).
  4. Untuk infeksi kuman yang berat (infeksi dibawah diafrgma, seperti infeksi ginjal/saluran kemih, apendisitis, tifus, prneumonia, meningitis bakteri) pilih AB yang juga membunuh kuman gram (+).
  5. Hindari pemakaian lebih dari satu AB, kecuali TBC atau infeksi berat di rumah sakit.
  6. Hindarkan pemakaian salep AB, kecuali untuk infeksi mata.

Rule fo Thumb
Bila anda memperoleh terapi AB, pertanyakanlah hal2 berikut:
1. Why do I need AB?
2. Apa yang dilakukan AB?
3. Apa efek sampingnya?
4. Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya efek samping?
5. Apakah AB harus diminum pada waktu tertentu, misalnya sebelum atau sesudah makan?
6. Bagaimana bila AB ini dimakan bersamaan dengan obat yang lain?
7. Beritahu pula bila anda mempunyai alergi terhadap suatu obat atau makanan, dll.

Final Message
Sebagai konsumen kesehatan yang bertanggung jawab, sebaiknya kita juga berperan aktif dengan cara menggali dan mempelajari pengetahuan dasar ilmu kesehatan. Dengan begitu kita akan menjadi konsumen kesehatan yang smart and critical. So, semoga tulisan ini dapat menambah pengetahuan dasar ilmu kesehatan para pembaca.

Tulisan ini dibuat bukan untuk menentang pemakaian AB. Sebaliknya kita harus mengetahui bagaimana pemakaian AB yang benar dan tepat karena justru AB yang irrational akan menyebabkan AB menjadi impotent atau kehilangan manfaatnya. Antibiotics save lives, therefore we also have to save Antibiotics.

Hati-hati dengan Obat Puyer!

Ini ada informasi mengenai obat puyer yang seringkali diberikan untuk anak. Menurut saya ini kasuistik, tergantung gimana pengolahan si obat sewaktu di apotik. Apa yang ditayangkan video ini memang belum tentu terjadi di semua tempat, tapi membuat kita perlu berhati-hati. Silakan kunjungi videonya di news.okezone.com.

UPDATE:

Dari kompas.com, ada beberapa artikel menarik seputar Puyer ini. IDI berharap polemik ini segera dihentikan, karena mereka beranggapan selama puyer dibuat sesuai prosedur, sebenarnya aman untuk dikonsumsi. Mereka juga melihat bahwa polemik seputar puyer bisa membuat buruk citra dokter di Indonesia. Sementara itu, ada berita mengenai YLKI yang mengajak BPOM Palembang mengecek pembuatan obat itu pada apotek dan rumah sakit serta puskesmas, dan menertibkan praktik pemrosesan obat tidak sesuai ketentuan.

Dari blog lain, nemu tulisan mengenai Obat Racikan Puyer dan Permasalahannya, yang disitu tertera penulisnya adalah Prof. dr. Rianto Setiabudi. Blog ini meneruskan artikel dari sebuah milis. Lalu dari wikimu, ada artikel juga seputar puyer, judulnya Sudahi Kontroversi Puyer, Membuat Masyarakat Bingung. Isinya tentang kekurangan dan kelebihan puyer.

Kumpulan Modul Penyuluhan IMD-ASIX

MASYARAKAT Desa Ciawi Gajah, Kab. Cirebon sedang belajar bersama melalui
penempatan kartu-kartu berisi informasi mengenai IMD-ASIX. (TJ-SDMB)

USAID melalui program Health Services Program (HSP), bekerja sama dengan Studio Driya Media Bandung telah menerbitkan modul kegiatan belajar bersama masyarakat (penyuluhan) untuk mensosialisasikan isu IMD dan ASI Eksklusif di Indonesia. Kumpulan modul penyuluhan IMD-ASIX ini sebenarnya telah selesai dikembangkan kurang lebih setahun yang lalu, dan kini sudah mendapat 'restu' dari pemerintah melalui Depkes. Di bawah ini adalah file-file modul yang dapat Anda unduh dan gunakan untuk kepentingan masyarakat luas. File presentasi latar belakang pengembangan modul dapat diunduh dari sini, atau jika Anda mau lihat langsung, silakan kunjungi alamat link ini dan untuk informasi lebih lanjut silakan kunjungi link ini.



Modul ini dikembangkan khususnya dalam kerangka program HSP, sehingga ada beberapa hal (misalnya pada pendefinisian peran Suami Siaga), disesuaikan dengan program yang memang dijalankan HSP di lapangan. Jika memang tidak sesuai, silakan dimodifikasi penggunaannya.

Pengguna modul difokuskan pada para kader desa siaga (Tim Kessa), atau kader-kader posyandu, dan bukanlah para petugas kesehatan. Karenanya banyak informasi mendetil yang sengaja tidak dimasukkan, dengan asumsi informasi yang bersifat teknis medis sedianya harus disampaikan oleh pihak yang kompeten, misalnya bidan, atau petugas kesehatan lainnya. Karenanya modul ini hanya bertujuan untuk penyadartahuan (awareness), bukan untuk melatihkan keterampilan medis tertentu. Tetapi jika Anda adalah seorang yang kompeten dalam hal medis, tentu saja pada saat berkegiatan dapat saja menambahkan informasi yang bersifat teknis-medis. Yang perlu Anda pertimbangkan adalah waktu dalam berkegiatan.

Jika Anda adalah pendamping masyarakat, atau pelatih yang sudah terbiasa dengan pelatihan, silakan gunakan manual pelatihan untuk melatihkan penggunaan modul kegiatan ini, menggunakan Manual Pelatihan Penggunaan Modul Kegiatan IMD-ASI Eksklusif yang dapat Anda unduh dari sini. Atau mungkin juga Anda sudah mulai terbiasa menggunakan modul-modul ini dan berkeinginan melatihkan orang lain mengenai cara menggunakannya.

Sebelum menggunakan, jangan lupa membaca Panduan Penggunaan Modul-nya agar tidak 'tersesat' dalam menyampaikan informasi. Silakan sesuaikan penggunaan bahasa, atau istilah yang lebih dikenal di daerah Anda. Lebih baik membaca dengan sabar, daripada masyarakat pusing dibuatnya. Persiapan bagi fasilitator yang membawakan modul ini sangat penting, karena banyak alat dan bahan yang digunakan dalam sebagian besar modul.

Selamat membaca, dan meneruskannya kepada masyarakat lain!
  • Panduan Penggunaan Modul Kegiatan - versi lengkap (5.3 Mb) | Cover Panduan (221 Kb) | Panduan saja (1.97 Mb) | Bahan Bacaan (2.9 Mb)
  • Adalah panduan dalam menggunakan modul-modul kegiatan ini, termasuk di dalamnya sumber informasi yang berkaitan dengan topik dalam modul. Jika versi lengkap terlalu besar untuk diunduh, silakan unduh per-bagian sesuai yang telah tertera di atas.
Dalam sebuah pelatihan, sekelompok peserta berhasil menciptakan sebuah lagu untuk perlekatan. Simak video-nya di sini.

UPDATE:

Ada artikel dari kompas.com, berisi 45 Mitos Menyusui, yang informasinya mirip dengan kartu-kartu pada Modul K-07. Hebat, informasi tentang menyusui semakin sering dimuat di media massa sekarang!

Pemberian Obat bagi Ibu yang Menyusui

Banyak pertanyaan seputar ibu yang menyusui ASI Eksklusif 6 bulan, dan harus memberi obat, baik buat si ibu maupun buat si bayi. Berikut nemu dari selasi.net, mengenai pemberian obat bagi Ibu menyusui. Ditulis oleh Rulina Suradi.

Kadangkala ibu yang sedang menyusui memerlukan obat. Yang selalu dipertanyakan adalah apakah obat ini akan mempengaruhi bayi yang sedang menetek? Untuk ini dokter perlu mengetahui tentang obat apa yang tidak boleh diberikan, obat apa yang dapat diberikan tetapi dengan hati-hati dan obat apa yang boleh diberikan kepada ibu yang sedang menyusui.

Isinya cukup lengkap, mulai dari (1) pengaruh obat yang diminum ibu terhadap bayi, (2) Panduan untuk memberikan obat-obatan kepada ibu yang menyusui, (3) Obat yang dikontraindikasi untuk diberikan kepada ibu yang menyusui, (4) Zat radioaktif yang memerlukan penghentian pemberian ASI untuk sementara, hingga daftar (5) Obat-obatan yang pemberiannya perlu berhati-hati karena mungkin mempunyai efek terhadap bayi.

Selengkapnya silakan klik di sini yak! Kalau Anda ragu-ragu, silakan kunjungi klinik laktasi/menyusui, di web ini ada alamat lengkapnya.

SKB 3 Menteri soal Menyusui di Tempat Kerja





Ibu-ibu bekerja, Anda seharusnya sekarang sudah lebih bergembira, karena pemerintah melalui SKB 3 menteri sudah menetapkan dukungan terhadap kegiatan memerah ASI di sela-sela kegiatan bekerja. Sayangnya memang SKB ini tidak mencantumkan ancaman sanksi bagi perusahaan yang melawan atau tidak mau mengikuti aturan tersebut. Yah.. minimal sudah ada aturannya lah... :D

Sumber: Fitri's site at multiply.com

Iklan dan Etalase Sufor








Barisan produk susu formula yang terpajang di pertokoan. Saat ini masih banyak produk pengganti ASI 0-6 bulan yang 'berkeliaran' di ranah publik, padahal menurut kode etik pemasaran sufor, produk-produk ini tidak boleh dipajang di tempat umum. Simak saja 3 dari 10 kodet etik yang diterbitkan IBFAN:

  1. Tidak boleh ada IKLAN dari semua produk dalam kategori di atas, yang ditujukan untuk publik.
  2. Tidak boleh ada CONTOH GRATIS untuk Ibu-ibu.
  3. Tidak boleh ada MEDIA PROMOSI (penempatan media) di lokasi fasilitas kesehatan, termasuk pembagian contoh gratis atau contoh yang dimurahkan.
Nah. Siapa yang seharusnya bertindak?

Reblog this post [with Zemanta]

Menyusui siap Di-Perda-kan di Kab. Bandung

Ketika sedang memfasilitasi pelatihan di Aceh, saya mendapat pesan singkat melalui HP dari seorang teman. Ada Rancangan Peraturan Daerah Kab. Bandung tentang Kesehatan Ibu, Bayi yang Baru Dilahirkan, dan Balita (Kibbla) yang akan menerapkan sanksi moral bagi ibu yang tidak menyusui. Saya bahkan baru dengar, tapi lalu sibuk mencari tahu.


Gagasan ini tampaknya datang dari LSM, bernama Safa Institute. Inti utama dari PERDA tersebut katanya untuk menurunkan tingkat kematian bayi dan ibu pada saat melahirkan. Ibu harus dijamin pelayanan kesehatannya, tidak boleh lagi melahirkan dengan bantuan dukun beranak. Berikut kutipannya dari PR online:

"Yang paling penting , ada ketentuan bahwa ibu yang melahirkan harus mendapatkan pelayanan maksimal di tempat layanan kesehatan tanpa harus ditanya dulu, apakah memiliki uang atau tidak," ujarnya.

Hal lain adalah terkait pemberian ASI eksklusif, instansi pemerintah, swasta dan ruang publik, wajib memiliki tempat khusus bagi ibu untuk menyusui. Dengan demikian, kata Raditya, setiap sektor harus menunjukkan kerja samanya untuk menegakkan aturan tersebut.

Yang jadi permasalahan adalah sanksi moral untuk Ibu yang tidak memberi ASI, yaitu diumumkan secara publik.

Selain itu, setiap ibu juga diwajibkan memberi ASI eksklusif selama enam bulan. Apabila melanggar, ada sanksi sosial, yakni akan diumumkan di ruang publik.

Apakah layak memberi Ibu sanksi seperti ini? Uhm... Kita sedang mencoba mendapatkan Draft Perda-nya, semoga setelah itu bisa memberi komentar lebih lanjut.

UPDATE (26/01/09):
Ketemu blog salah seorang Pansus dari DPRD Kab. Bandung yang menggolkan Perda KIBBLA ini, disini. Saya sudah coba minta dokumen Perdanya melalui blog beliau ini. Semoga ada respon.

UPDATE (3/02/09):
Hari ini, Pak Tubagus Raditya, salah satu anggota Pansus yang saya hubungi, telah mengirimkan file Raperda KIBBLA Kab. Bandung ini. Segera akan saya coba muat di blog ini, dan bisa kita cermati bersama. Terima kasih, Pak! Filenya bisa di-download di sini.

Menyusui Menyelamatkan Ibu dari Kanker Payudara

LAMONGAN, MINGGU - Menyusui dinilai penting untuk kesehatan baik bagi anak dan ibunya. Ketua Gerakan Organisasi Wanita Lamongan, Cicik Rosida Tsalits dalam Sosialisasi Inisiasi Menyusui Dini di Lamongan Minggu (21/12) yang diikuti para wanita dan bidan menyatakan prihatin dengan banyaknya ibu muda yang tidak mau menyusui karena takut payudaranya akan kendor, padahal dengan menyusui menyelamatkan ibu dari kanker payudara.

Sementara itu, Ketua Sentra Laktasi Indonesia, Utami Roesli sebagai pembicara memaparkan beberapa Negara sudah mengenal metode inisiasi menyusui dini (IMD) sejak medio 1987. Namun Indonesia baru mengenal metode IMD dua tahun terakhir.

Utami menyebutkan manfaat dari IMD diantaranya jalinan kasih sayang antara ibu, ayah dan bayi akan lebih baik. Dengan IMD bayi akan mendapat kolostrum yang kaya akan antibody, penting untuk pertumbuhan dan ketahanan infeksi bayi. Bagi ibu, IMD dapat merangsang produksi hormon oksitosin yang dapat mengurangi pendarahan, membuat ibu tenang dan rileks serta merangsang pengeluaran ASI, katanya.

Utami menyampaikan pentingnya IMD dilakukan sebab menurut penelitian dengan IMD delapan kali lebih berhasil untuk mensukseskan program enam bulan ASI eksklusif. Yang disiapkan Allah untuk bayi yang baru lahir adalah dada ibunya, bukan incubator. Dada ibu diciptakan untuk memiliki suhu yang lebih hangat dari suhu luar dan bisa menyesuaikan diri dengan suhu yang dibutuhkan bayi atau thermoregulator thermal synchron. Jika suhu dada ibu terlalu dingin untuk bayi, suhu dada ibu akan naik. Demikian pula sebaliknya, papar Utami.

Menurut Utami selama ini banyak orang salah dalam menangani bayi yang baru lahir. Dokter anak senior di RS ST Carolus Jakarta ini menegaskan anak adalah titipan Tuhan untuk ibu, bukan ke bidan. Oleh karena itu ibu-ibu harus minta hak IMD. Metode IMD sangat sederhana. Bayi begitu lahir diletakkan di dada ibu sehingga ada kontak antara kulit bayi dengan kulit ibu. Beri waktu selama satu jam bagi bayi untuk mencari sendiri puting ibunya. Dalam usia bayi 20 menit, bayi akan mulai merangkak mencari puting ibunya dan pada usia 50 menit akan mulai menyusui, katanya.

Namun jika bayi lahir normal langsung dipisahkan dengan ibunya untuk ditimbang, IMD tidak akan bisa dilakukan. Ini juga berarti mengurangi kesuksesan program ASI eksklusif enam bulan. Sebuah penelitian dari Inggris menyebutkan, menunda inisiasi menyusui dapat meningkatkan kematian bayi. Dengan IMD, dapat mengurangi resiko kematian bayi hingga 22 persen. Dan resiko ini akan semakin besar ketika semakin lama menunda permulaan penyusuan, tutur Utami.

Sumber: kompas.com | Laporan wartawan Kompas Adi Sucipto